January 21st, 2008 by edwinwbs
Smart
Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu. Waktu harus dipandang sebagai sumber daya yang tak terkira nilainya dan pantang disia-siakan begitu saja. Orang yang memegang teguh visi dan misi dalam hidupnya akan memandang waktu sebagai hal yang sangat penting. Bagi orang-orang seperti inilah manajemen waktu sangat diperlukan. Jika seseorang bisa mengatur waktunya dengan baik, orang seperti ini cenderung tidak mengeluh soal waktu, apakah waktu yang berjalan dengan lambat ataupun waktu yang berlalu dengan cepat. Apakah goal Anda di tahun ini sudah ada yang terwujud? Mengingat waktu yang terus berjalan mendekati akhir tahun. Ketika membuka catatan pribadi, saya kembali diingatkan untuk menetapkan tujuan dengan unsur SMART: Specific, jelas apa yang mau kita tuju. Measurable, dapat diukur. Achievable, dapat dicapai sesuai dengan kapasitas kita. Realistic, atau realistis, menghadapi kenyataan dengan segala batas waktu. Time-bound, menetapkan batas waktu. Setiap pekerjaan punya batas waktu akhir yang tegas, demikian pula dengan goals yang sudah kita tetapkan. Sebuah tujuan harus direncanakan dengan sejelas-jelasnya. Bukan hanya dengan pernyataan, "Bagaimana saya meraih prestasi dan berapa lama mencapai target?" Tidak ada kata terlambat bagi mereka yang mau mencapai keberhasilan dalam bidang apapun, selama mereka bisa merencanakannya dengan SMART. Biarlah catatan di atas bisa mengingatkan kita kembali untuk tetap membuat perencanaan yang baik guna meraih prestasi yang lebih tinggi. Buatlah perencanaan yang baik untuk masa depan Anda.
Posted in Uncategorized | No Comments »
January 21st, 2008 by edwinwbs
Jadikan Hidup Lebih Ringan
Kolose 3:17
Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.
Kalau kita diminta untuk memilih: bersyukur ketika kita baru saja dipromosikan oleh bos atau bersyukur saat bos memarahi kita tanpa alasan yang jelas, mana yang akan kita pilih? Kebanyakan orang cenderung memilih yang pertama. Mengapa? Karena situasi dan kondisi yang pertama menyenangkan hati kita atau sesuai dengan apa yang kita harapkan. Sementara kondisi kedua sebaliknya. Ego kita biasanya langsung bereaksi saat menghadapi sesuatu yang tidak kita inginkan. Dan jika kita berpikir secara negatif, seringkali akan merembet juga ke hal-hal lainnya.
Mungkin Anda pernah mengalami situasi di mana banyak pekerjaan di kantor menanti dibereskan dengan deadline yang semakin mendekat. Ketika Anda tengah berpacu dengan waktu, berusaha membereskannya satu persatu, bos tiba-tiba meminta Anda mengerjakan hal lain dengan segera tanpa memberi kepada Anda kelonggaran waktu untuk menyelesaikan pekerjaan yang utama. Apa reaksi pertama Anda saat hal itu terjadi? Bersungut-sungut meski hanya di dalam hati, marah atau memukul meja?
Sikap-sikap itu sama sekali tidak akan membuat kita selangkah lebih maju untuk menyelesaikan pekerjaan, justru mebuat energi yang kita keluarkan menjadi berlipat. Bukan hanya menyelesaikan pekerjaan, tapi juga untuk menanggung ‘emosi’ yang bergejolak. Jika kita mau belajar untuk tidak cepat bereaksi secara negatif dan mulai bersyukur saja, pekerjaan yang ada akan terasa lebih ringan. Mungkin itu cukup sulit, tapi bisa dilakukan!
Hidup ini akan terasa lebih indah ketika syukur selalu terucap dari bibir Anda.
Posted in Uncategorized | No Comments »
January 21st, 2008 by edwinwbs
Pekerjaan Impian
Pengkhotbah 3:22
Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?
Seorang skater (pemain skateboard) profesional setelah menjuarai sebuah turnamen Skateboarding International di Australia, diwawancarai oleh sebuah stasiun televisi lokal mengenai kegiatan dan pekerjaannya sebagai seorang skater profesional. Dalam wawancara itu diketahui jika skater ini telah melatih kemampuannya berjam-jam setiap hari dengan kedisiplinan yang tinggi.Ketika ditanya apakah pernah merasa bosan dengan kegiatannya, ia mengatakan kadang ia merasa jenuh atau lelah. Tetapi karena ia begitu mencintai skateboard ini sejak masih di SMU, kejenuhan itu cepat teratasi. Dan ia sangat menyukai pekerjaannya ini, meski menuntut kedisplinan dan stamina yang prima. Ia menambahkan jika ia seperti hidup dalam mimpi karena melakukan apa yang menjadi kesenangannya tapi dibayar juga.
Kadang kala kita sering merasa jenuh dengan pekerjaan yang ada. Dan ketika sudah mencoba pindah bagian atau bahkan berpindah pekerjaan, perasaan yang sama akan muncul kembali, yaitu kebosanan dan kejenuhan akan apa yang sedang kita lakukan.
Cobalah untuk menikmati apa yang Anda kerjakan sekarang. Ketika kita menyenangi apa yang sedang kita kerjakan, ada suatu kekuatan tambahan dan dengan itu Anda dapat menambahkan setitik cinta pada pekerjaan Anda itu. Pekerjaan yang dilakukan dengan cinta dan sukacita pastilah akan menghasilkan karya yang lebih baik.
Cintailah pekerjaan yang Anda miliki, maka Anda tidak akan kehilangan pekerjaan tersebut.
Posted in Uncategorized | No Comments »
January 21st, 2008 by edwinwbs
"Semut-Semut" Jepang
Amsal 6:6 : Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak.
Sewaktu Alkitab mengatakan kepada kita untuk meneladani semut dalam hal kerajinan, saya berpikir bahwa hal itu merupakan hal yang sangat sulit sekali, sampai satu kali saya membaca artikel di internet dan pandangan saya diubahkan. Anda pernah melihat sekelompok semut? Nah, begitulah kira-kira situasi kantor pemerintahan daerah di Jepang yang dijelaskan dalam artikel. Tidak ada "semut’ diam termangu, apalagi membaca koran. Seluruh karyawan kantor senantiasa bergerak, dari saat bel mulai kerja hingga pulang larut malam. Tak habis pikir, saya tatap dalam-dalam "semut-semut yang sedang bekerja itu", kadang saya mencuri pandang: jangan-jangan mereka sedang ber-internet ria seperti kebiasaan saya. Apa sih yang membuat mereka sanggup duduk berjam-jam, berkonsentrasi dan menatap dengan serius monitor komputer? Tata ruang kantor khas Jepang: mulai pimpinan hingga staf duduk pada satu ruangan yang sama - tanpa sekat; semua bisa melihat satu sama lain. Satu orang membaca koran, pasti akan ketahuan. Sebagai tambahan lagi kadang ada aksi lari-lari (dalam arti yang sesunguhnya) dari pimpinan ataupun staf dalam melayani masyarakat. Luar biasa orang Jepang itu, meski belakangan kita dengar berita minor seperti tingkat bunuh diri tinggi, tapi tetap "semut" Jepang menghadirkan sisi teladan yang wah keren, ketekunan dan kerajinan yang jarang ditemui di Indonesia. Mungkin orang Jepang itu telah berhasil meneladani semut lebih dulu daripada kita (padahal di Indonesia banyak sekali dijumpai semut), sementara kita akhirnya meneladani orang Jepang. Satu teladan berdampak dari pada seribu kata.
Posted in Uncategorized | No Comments »